
NATUNA, harianmetropolitan.co.id – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Nusa menggandeng Stasiun Meteorologi Maritim Penagi untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan data dan analisis prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai dasar menyusun strategi pengelolaan sumber air baku.
Upaya itu dibahas dalam audiensi antara jajaran PDAM Tirta Nusa dan Stasiun Meteorologi Maritim Penagi di Ranai, Kabupaten Natuna, Rabu, 14 Oktober 2026.
Direktur Utama PDAM Tirta Nusa, Zaharuddin, mengatakan sumber air baku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Natuna sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Karena itu, perubahan pola cuaca perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengganggu pelayanan air bersih.
“Kondisi sumber air kita di Natuna ini adalah air permukaan, yang artinya 100 persen mengharapkan curah hujan. Karena itu, kami harus mendapatkan informasi yang pasti dari BMKG agar bisa mempersiapkan diri mencari langkah atau opsi untuk menangani krisis air,” kata Zaharuddin.
Menurut dia, kondisi cuaca pada penghujung 2026 hingga awal 2027 perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air baku. Data BMKG akan menjadi bahan penyusunan langkah penanganan sekaligus dasar untuk menyampaikan kondisi tersebut kepada Bupati Natuna sebagai pertimbangan kebijakan pemerintah daerah.
Zaharuddin juga mengantisipasi kemungkinan penurunan curah hujan terjadi lebih awal dan bertepatan dengan Ramadan. Kondisi tersebut dinilai perlu diperhitungkan agar kebutuhan air masyarakat tetap dapat dipenuhi.
“Ini harus kita persiapkan dari sekarang. Kita membutuhkan data agar langkah yang diambil tepat sasaran,” ujarnya.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Penagi, Rafael Alisandro Marbun, menjelaskan bahwa kondisi cuaca dan curah hujan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain anomali suhu permukaan laut, fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), gelombang atmosfer, serta pola angin.
Dalam audiensi tersebut, BMKG juga memaparkan pemantauan hari tanpa hujan, prediksi curah hujan dasarian, akumulasi curah hujan pada dasarian pertama Oktober 2026, serta perkiraan awal dan puncak musim hujan 2026/2027.
Menurut Rafael, El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis. Fenomena tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
“Kalau gampangnya, El Niño ini membuat Indonesia cenderung kurang hujan. Ini berbeda dengan La Niña yang dapat meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah,” kata Rafael.
Ia menjelaskan, dampak El Niño umumnya lebih kuat dirasakan di wilayah Indonesia bagian timur. Meski demikian, kondisi di Natuna tetap perlu dipantau karena pengaruh fenomena iklim terhadap curah hujan dapat berbeda antardaerah.
Rafael juga meluruskan penggunaan istilah El Niño Godzilla yang kerap muncul dalam pemberitaan maupun percakapan publik. Menurut dia, istilah tersebut bukan istilah resmi yang digunakan BMKG. El Niño sendiri merupakan fenomena iklim, bukan badai.
Ia menambahkan, curah hujan di suatu wilayah dapat tetap rendah meskipun wilayah tersebut telah memasuki musim hujan. Karena itu, prakiraan cuaca perlu dipahami secara menyeluruh dengan mempertimbangkan perkembangan berbagai faktor atmosfer dan laut.
Untuk Natuna, suhu permukaan laut yang relatif lebih hangat di sekitar wilayah tersebut diharapkan mendukung penguapan dan pembentukan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Namun, potensi tersebut tetap harus dipantau melalui pembaruan prakiraan BMKG dan tidak serta-merta menjamin ketersediaan air baku mencukupi kebutuhan masyarakat.
Rafael menegaskan, informasi meteorologi perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan instansi terkait. Data prakiraan cuaca, menurut dia, harus menjadi acuan dalam menyusun langkah mitigasi, bukan sekadar informasi.
“BMKG memastikan data dan informasi disampaikan. Selanjutnya, diperlukan kerja sama yang tepat antara BMKG dan pemerintah daerah agar informasi tersebut tidak berhenti pada tahap menerima, tetapi dapat menjadi acuan dalam menentukan langkah mitigasi,” ujarnya.
BMKG merekomendasikan sejumlah langkah untuk menghadapi perubahan musim, antara lain mengoptimalkan pengelolaan dan penyimpanan cadangan air selama periode kering, memantau ketersediaan air di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan, serta memanfaatkan periode hujan untuk mengisi kembali sumber-sumber air.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air dan lahan perlu dioptimalkan untuk menghadapi perubahan kondisi musim.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan instansi terkait agar mengantisipasi peningkatan limpasan air dan genangan saat memasuki musim hujan. Upaya yang disarankan meliputi pemeriksaan kondisi drainase dan saluran air sebelum puncak hujan serta pemetaan lokasi rawan genangan.
Kesiapsiagaan menjelang puncak musim hujan, terutama pada November dan Desember, juga menjadi perhatian dalam rekomendasi tersebut.
Sementara itu, Kepala Bagian Ekonomi, Agino Riko, mengapresiasi pemaparan BMKG. Ia menilai informasi cuaca perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru apabila hanya sebagian informasi yang diterima.
Agino mengatakan, pemerintah daerah dapat mendorong langkah antisipasi melalui pemeliharaan drainase dan saluran air. Pihak kecamatan dan desa juga dapat diimbau untuk memeriksa serta membersihkan saluran di wilayah masing-masing guna menjaga kelancaran aliran air dan mengurangi risiko genangan.
Ia berharap informasi mengenai peluang hujan dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan pemerintah daerah, terutama untuk mengantisipasi persoalan ketersediaan air yang menjadi kebutuhan vital masyarakat.
Audiensi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi antara PDAM Tirta Nusa dan BMKG dalam menghadapi kemungkinan perubahan kondisi cuaca pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Dengan mengacu pada data meteorologi, pemantauan sumber air, dan perencanaan sejak dini, PDAM Tirta Nusa diharapkan dapat menyiapkan langkah yang lebih terukur untuk menjaga ketersediaan air baku dan keberlanjutan pelayanan air bersih bagi masyarakat Natuna. (Hani)