
NATUNA, harianmetropolitan.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman demam berdarah dengue (DBD) seiring memasuki musim penghujan.
Meski belum terjadi peningkatan kasus yang signifikan, perubahan cuaca dan munculnya genangan air di sekitar permukiman dinilai berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi pembawa virus dengue.
Staf Epidemiolog Kesehatan Pertama Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Natuna, Wan Widya Rully Ekaputri, mengatakan sepanjang Januari hingga Oktober 2026 tercatat sebanyak 69 kasus DBD.
Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan kasus terjadi pada Oktober 2026. Angka ini menurun dibandingkan September yang mencatat 15 kasus.
“Untuk total Januari sampai Oktober itu ada 69 kasus,” kata Wan Widya kepada harianmetropolitan, Senin, 2 November 2026.
Ia menyebutkan, kasus DBD pada Oktober tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Ranai, Serasan, Cemaga, dan Pulau Tiga. Ranai menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni tiga kasus.
“Kasus DBD di Oktober ada terjadi di awal dan ada juga di akhir bulan,” tambahnya.
Sementara itu, hingga awal November 2026, Dinkes Natuna belum menerima laporan kasus DBD.
“Untuk November masih nihil,” katanya.
Sebelumnya, peningkatan kasus sempat terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Dalam dua bulan tersebut, tercatat sebanyak 28 kasus DBD di sejumlah wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Natuna.
Kendati kasus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat tetap diminta tidak lengah, terutama ketika intensitas hujan mulai meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna, Hikmat Aliansyah, mengatakan pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan melibatkan seluruh masyarakat.
“Meski tidak ada peningkatan kasus signifikan, masyarakat kami imbau untuk tetap waspada dan bersama-sama mengantisipasinya sejak dini. Terlebih saat musim penghujan, nyamuk lebih cepat berkembang biak,” ujarnya.
Menurut Hikmat, genangan air yang muncul di sekitar rumah dapat menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Ia juga mengajak masyarakat kembali menggalakkan gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Selain melakukan pencegahan di lingkungan rumah, masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi secara mendadak, sakit kepala, nyeri sendi, hingga munculnya bintik-bintik kemerahan pada kulit.
“Langkah cepat dalam penanganan sangat penting agar tidak berujung fatal. Terutama jaga kebersihan dan galakkan gerakan 3M,” pungkasnya. (Manalu)
Editor: Erwin