Dinkes Natuna Perkuat Promosi Kesehatan Hingga Pulau Terluar

Natuna, harianmetropolitan.co.id – Di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan, Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna terus memperkuat program promosi kesehatan berbasis masyarakat sebagai langkah strategis meningkatkan derajat kesehatan warga hingga ke pelosok desa dan pulau terluar.

Transformasi layanan kesehatan melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), penguatan Posyandu siklus hidup, percepatan penurunan stunting, hingga kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) kini menjadi fokus utama pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Natuna, Hikmat Aliansyah, mengatakan transformasi kesehatan melalui Integrasi Layanan Primer menjadi fondasi utama dalam memperkuat edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tengah masyarakat.

“Strategi ini memastikan edukasi PHBS dimulai dari tingkat Puskesmas, Pustu hingga Posyandu dengan pendekatan siklus hidup,” ujarnya, saat dikonfirmasi, Rabu, 13 Mei 2026.

Menurut Hikmat, edukasi kesehatan diberikan sesuai tahapan usia mulai dari ibu hamil, bayi, remaja, dewasa hingga lansia. Posyandu pun kini tidak lagi hanya identik dengan pelayanan balita, tetapi dikembangkan menjadi pusat literasi kesehatan masyarakat.

“Posyandu sekarang diarahkan menjadi pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup sekaligus pusat edukasi kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Dalam mendukung program tersebut, Dinas Kesehatan Natuna terus memperkuat kapasitas kader kesehatan melalui peningkatan kompetensi dan pelatihan berkelanjutan.

Kader Posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, terutama dalam melakukan kunjungan rumah, memantau 10 indikator PHBS rumah tangga, memberikan edukasi kesehatan, hingga melaksanakan pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Selain itu, kader juga membantu pelayanan dasar seperti penimbangan balita, pengukuran kesehatan, pencatatan data hingga deteksi dini masalah kesehatan masyarakat.

“Kader kesehatan merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan di lapangan. Kolaborasi tenaga kesehatan dan kader menjadi kunci keberhasilan promosi kesehatan,” kata Hikmat.

Di sisi lain, tenaga kesehatan juga berperan sebagai edukator, fasilitator pemberdayaan masyarakat, pendamping program kesehatan hingga penggerak kemitraan lintas sektor.

Percepatan penurunan angka stunting menjadi salah satu prioritas utama Dinas Kesehatan Natuna. Berbagai intervensi dilakukan melalui Gerakan Aksi Bergizi, Gerakan Ibu Hamil Sehat, aktivasi Posyandu, serta edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Menurut Hikmat, kampanye intensif mengenai pemenuhan gizi, konsumsi protein hewani, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan ibu dan anak mulai menunjukkan hasil positif.

“Meningkatnya kesadaran ibu membawa balita ke Posyandu menjadi salah satu indikator keberhasilan program edukasi kesehatan,” ungkapnya.

Transformasi ILP juga berdampak pada meningkatnya kunjungan Posyandu dari berbagai kelompok usia. Kini Posyandu mulai diikuti kelompok usia produktif hingga lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan skrining penyakit.

Penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) juga terus digalakkan di Kabupaten Natuna. Kampanye dilakukan melalui senam bersama, pemeriksaan kesehatan berkala, edukasi pola makan sehat, hingga pembiasaan penyediaan buah dan sayur pada kegiatan resmi pemerintahan.

Hikmat menyebut, perubahan perilaku masyarakat mulai terlihat dari meningkatnya kesadaran menjalani pola hidup sehat serta tingginya minat masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan gratis.

“GERMAS perlahan mulai menjadi budaya baru baik di lingkungan pemerintah maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Dalam memperluas jangkauan edukasi kesehatan, Dinas Kesehatan Natuna juga memanfaatkan media sosial dan teknologi digital sebagai sarana promosi kesehatan.

Website resmi Dinas Kesehatan Natuna digunakan sebagai pusat informasi layanan kesehatan, sementara media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kesehatan secara cepat dan luas.

Selain itu, pendekatan digital juga dilakukan melalui webinar kesehatan, live streaming edukasi, dialog radio, hingga pemanfaatan grup WhatsApp kader untuk koordinasi jadwal Posyandu, pelaporan stunting, pengingat imunisasi dan penyebaran materi edukasi.

Dinas Kesehatan juga mulai mengembangkan sistem informasi kesehatan terintegrasi untuk pemantauan data imunisasi, stunting, PHBS, serta kesehatan ibu dan anak.

“Kami juga melatih kader remaja agar dapat menjadi fasilitator kesehatan di lingkungan mereka sendiri, termasuk melalui media sosial,” jelas Hikmat.

Meski berbagai program terus berjalan, tantangan geografis masih menjadi kendala utama dalam pelaksanaan promosi kesehatan di Natuna.

Sebagai wilayah kepulauan, banyak Posyandu dan Puskesmas Pembantu berada di pulau-pulau kecil yang hanya dapat dijangkau menggunakan transportasi laut.

“Pada musim tertentu seperti Musim Utara, cuaca ekstrem dan gelombang tinggi sering menghambat pembinaan maupun distribusi media edukasi kesehatan,” kata Hikmat.

Selain itu, keterbatasan jaringan internet di wilayah terpencil juga menjadi tantangan dalam penerapan edukasi kesehatan berbasis digital.

Tidak hanya itu, faktor sosial budaya dan rendahnya literasi kesehatan di beberapa wilayah juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi tenaga kesehatan.

“Masih ada mitos atau kebiasaan lama yang kadang berbenturan dengan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi masyarakat,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pelaksanaan promosi kesehatan, Dinas Kesehatan Natuna juga membangun kolaborasi lintas sektor melalui Forum Komunikasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) Kabupaten Natuna.

Forum tersebut menjadi wadah koordinasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha hingga berbagai elemen masyarakat dalam mendukung pelaksanaan program promotif dan preventif.

Menurut Hikmat, perubahan perilaku hidup sehat tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pihak.

“Dengan kolaborasi yang kuat, promosi kesehatan akan lebih efektif dan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat,” ujarnya.

Ke depan, Dinas Kesehatan Natuna berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi kesehatan, tetapi juga menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Partisipasi masyarakat diharapkan terus meningkat melalui penerapan PHBS, keaktifan dalam Posyandu, pemeriksaan kesehatan berkala, aktivitas fisik rutin, hingga kepedulian terhadap kesehatan lingkungan.

Selain itu, munculnya kader kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda yang aktif menyebarkan pesan kesehatan dinilai menjadi modal penting dalam menciptakan masyarakat Natuna yang sehat dan mandiri.

“Keberhasilan promosi kesehatan bergantung pada keterlibatan masyarakat itu sendiri dalam menjaga dan meningkatkan kesehatannya,” tutup Hikmat. (Rian)

Bagikan

Recommended For You

About the Author: Redaksi Harian Metropolitan

Exit mobile version