Tekan Angka Stunting, Dinas Kesehatan Natuna Prioritaskan Perhatikan Gizi Ibu Hamil

NATUNA-harianmetropolitan.co.id- Pemerintah Kabupaten Natuna melalui Dinas Kesehatan terus menggalakkan berbagai langkah pencegahan untuk menekan angka stunting, salah satunya melalui intervensi sejak dini kepada remaja putri. Kepala Dinas Kesehatan Natuna, Hikmat Alfiansyah, mengungkapkan bahwa program pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri telah dijalankan secara masif di tingkat SMP dan SMA.

“Remaja putri kita berikan 52 tablet tambah darah per tahun. Karena survei menunjukkan 60–70% dari mereka mengalami anemia akibat menstruasi. Kondisi anemia ini bisa berdampak pada kesehatan saat mereka hamil kelak,” jelas Hikmat, Rabu 27 Mei 2026, via panggal whatsApp.

(FOTO: Kepala Dinas Kesehatan Natuna, Hikmat Aliansyah)

Hikmat menekankan pentingnya mempersiapkan kesehatan sejak remaja sebagai upaya pencegahan stunting dari hulu. Menurutnya, kondisi ibu saat hamil sangat menentukan kesehatan anak sejak dalam kandungan.

Selain itu, pemerintah juga tengah merancang perluasan program makan bergizi gratis (MBG) yang sebelumnya hanya menyasar anak sekolah. Ke depan, sasaran program ini akan diperluas untuk mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. “Jika ibu hamil mendapat makanan bergizi yang baik, asupan gizinya terjaga, maka potensi anak mengalami stunting pun bisa ditekan sejak dalam kandungan,” ujarnya.

Langkah-langkah strategis ini diharapkan mampu memperkuat upaya pemerintah dalam mencapai target nasional penurunan angka stunting, serta menciptakan generasi Natuna lebih sehat dan unggul di masa depan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna mencatat adanya penurunan signifikan angka stunting pada tahun 2025. Kepala Dinas Kesehatan Natuna, Hikmat Alfiansyah, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan melalui aplikasi Elektronik Pencatatan Gizi Masyarakat (e-PGBM), prevalensi stunting di Natuna telah menurunnya menjadi 12 persen dari sebelumnya 16 persen pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun demikian, Hikmat mengingatkan bahwa menurunkan angka stunting bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Ia menegaskan bahwa intervensi dari sektor kesehatan hanya menyumbang 30 persen dalam upaya penurunan stunting, sementara 70 persen lainnya berasal dari intervensi sensitif melibatkan berbagai instansi.

“Penurunan angka stunting sangat tergantung pada kolaborasi lintas sektor. Mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Agama, dan lainnya. Mereka punya peran penting dalam memperbaiki pola hidup, asupan gizi, dan sanitasi masyarakat,” tegasnya.

Menurut Hikmat, penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang, yang sering kali dipicu oleh asupan makanan yang kurang bergizi, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan akses terhadap air bersih. (***Advetorial)

Bagikan

Recommended For You

About the Author: Redaksi Harian Metropolitan