
Natuna, harianmetropolitan.co.id – Upaya penanganan dan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Natuna terus diperkuat oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Natuna. Berdasarkan data terbaru tahun 2026, tercatat sebanyak 39 orang di Natuna terkonfirmasi positif HIV.
Dari jumlah tersebut, 30 pasien diketahui rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan perkembangan virus sekaligus menjaga kualitas hidup mereka.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Natuna, Wan Iswandi, SKM mengatakan, pengobatan ARV menjadi langkah penting dalam pengendalian HIV karena mampu membantu pasien tetap sehat dan produktif apabila dikonsumsi secara disiplin.
“Berdasarkan data terakhir tahun 2026 terdapat 39 orang yang terkonfirmasi positif HIV. Dari jumlah tersebut, 30 orang rutin menjalani pengobatan,” ujar Wan Iswandi saat dikonfirmasi, Senin, 18 Mei 2026.
Ia menjelaskan, dari total penderita yang tercatat, terdiri dari 18 laki-laki, 12 perempuan, serta 4 anak-anak. Kondisi ini menunjukkan bahwa HIV dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia maupun jenis kelamin, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan sejak dini.
Menurut Wan Iswandi, Dinas Kesehatan Natuna terus melakukan pendampingan terhadap pasien agar tetap konsisten menjalani terapi ARV. Kepatuhan minum obat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga daya tahan tubuh penderita sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
“Pengobatan yang rutin dan disiplin sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan terapi ARV yang baik, penderita HIV tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal,” jelasnya.
Selain fokus pada pengobatan, Dinas Kesehatan Natuna juga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya HIV/AIDS dan langkah-langkah pencegahannya. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai kegiatan penyuluhan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di tengah masyarakat.
Langkah pencegahan yang terus disampaikan meliputi menghindari perilaku seksual berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi.
Tidak hanya itu, Dinkes Natuna juga menekankan pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Menurut Wan Iswandi, dukungan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberanian pasien untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan secara terbuka.
“Jangan ada stigma terhadap penderita HIV/AIDS. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting agar mereka tidak merasa dikucilkan dan tetap semangat menjalani pengobatan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanganan HIV bukan hanya persoalan medis, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Karena itu, edukasi dan keterbukaan informasi dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan angka penyebaran HIV di Natuna.
Wan Iswandi berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama mendukung upaya pencegahan HIV/AIDS melalui pola hidup sehat, peningkatan pengetahuan, dan kepedulian terhadap sesama.
“Pencegahan harus dilakukan bersama melalui edukasi dan kesadaran masyarakat agar penyebaran HIV dapat ditekan,” pungkasnya. (Rian)
